Archive for December, 2006

Bahaya Menghukum Seorang Muslim Sebagai Murtad

Thursday, December 28th, 2006

PERMASALAHAN PENTING YANG WAJIB DIPERHATIKAN

Di sini ada sejumlah permasalahan yang ingin saya
kemukakan, yaitu: Pertama: bahwa menghukumi seorang Muslim sebagai
murtad dari agamanya’ adalah sesuatu perkara yang sangat berbahaya yang
akan berakibat hilangnya seluruh wala’ dan keterikatan dia dengan
keluarga dan masyarakat. Bahkan sampai harus dipisahkan antara dia
dengan isteri dan anaknya’ karena tidak halal bagi seorang Muslimah
berada di bawah kekuasaan orang kafir. Demikian juga terhadap
anak-anaknya, ia tidak bisa dipercaya lagi untuk mendidik anak-anak,
apalagi/terutama dari segi sanksi materi yang telah disepakati
oleh,fuqaha’ secara keseluruhan.

Oleh karena itu wajib bagi kita untuk
berhati-hati dengan sepenuh hati-hati ketika menghukumi kufurnya
seorang Muslim yang keislamannya masih ada. Karena ia benar-benar
Muslim dengan keyakinannya, maka tidak bisa keyakinan itu dihilangkan
dengan keraguan.

Termasuk di antara permasalahan yang sangat
berbahaya adalah mengkufurkan orang yang tidak kafir, dan Sunnah telah
memperingatkan hal itu dengan keras.

Saya telah menulis tentang masalah tersebut dalam
suatu risalah (buku) dengan tema "Zhahiratul Ghuluwwifit Takdir,"
dengan tujuan untuk memberantas gelombang yang merusak yang menyebar
dengan leluasa dalam hal mengkufurkan orang, dan ini selalu ada yang
memeluknya.

Kedua: Sesungguhnya orang-orang yang berhak
memberikan fatwa tentang kemurtadan seorang Muslim adalah mereka yang
mendalam ilmunya dari orang-orang yang ahli. Yaitu yang dapat
membedakan antara yang qath ‘i dan yang zhanni, antara yang muhkam dan
mutasyabih, antara yang menerima ta’wil dan yang tidak menerima ta’wil.
Maka mereka tidak mengkafirkan kecuali sesuatu yang tidak ada
alternatif lainnya seperti pengingkaran sesuatu yang pasti dari agama
atau penghinaan terhadap aqidah atau syari’ah, seperti juga mencaci
Allah SWT, Rasul, dan kitabNya secara terang-terangan dan lain-lain.

Contoh dari pada itu adalah apa yang difatwakan oleh
para ulama tentang Salman Rusydi, demikian juga Rasyad Khalifah yang
mengingkari Sunnah, kemudian mengingkari dua ayat dari akhir surat
At-Taubah, kemudian mengakhiri kekufurannya dengan pengakuannya sebagai
Rasul Allah, dengan mengatakan bahwa Muhammad SAW adalah penutup para
Nabi, bukan penutup para Rasul. Fatwa ini dikeluarkan oleh Majlis
Mujtama’ Fiqhi Rabithah ‘Alam Islami.

Masalah ini tidak boleh diserahkan kepada
orang-orang yang tergesa-gesa atau kepada orang-orang yang berlebihan
atau orang-orang yang sedikit ilmunya karena mereka akan mengatakan
atas nama Allah apa-apa yang mereka tidak mengetahuinya.

Ketiga: Sesungguhnya yang berhak memberikan fatwa
adalah waliyul amri syar’i yang telah ditetapkan dan tidak menghukumi
kecuali kepada hukum Allah SWT dan tidak dikembalikan kecuali pada
ayat-ayat muhkamat yang jelas dari kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.
Keduanya (Kitab Allah dan Sunnah Rasul) itulah yang menjadi rujukan
apabila ada perselisihan antar manusia, Allah SWT berfirman:

 

"Maka jika kamu berlainan pendapat
tentang sesuatu, mata kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan
Rusul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari
kemudian." (An-Nisaa’: 59)

Pada dasarnya qadhi dalam Islam itu harus dari ahli
ijtihad, dan apabila tidak memenuhi syarat, maka ia minta tolong kepada
ahli ijtihad, sehingga kebenaran itu menjadi jelas. Tidak memutuskan
perkara dengan kebodohan dan hawa nafsu’ karena jika demikian maka ia
termasuk qadhi-qadhi neraka.

Keempat: Jumhur ulama mengatakan wajibnya menyuruh
taubat kepada orang yang murtad sebelum dilaksanakannya hukuman, bahkan
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan dalam kitabnya "Ash Sharimm Al
Maslul ‘Alaa Syaatimir Rasul" Qan ini merupakan ijma’ para sahabat dan
sebagian fuqaha’–ada yang membatasi tiga hari, ada yang kurang dan ada
yang lebih dari tiga hari’ dan juga yang mengatakan disuruh bertaubat
selamanya."

Sebagian ulama mengecualikan orang yang zindiq,
karena ia menampakkan sesuatu yang berlainan dengan batinnya, maka
tidak ada taubat baginya. Demikian juga orang yang mencaci/melecehkan
Rasulullah SAW karena kemuliaan Rasulullah SAW dan kehormatannya, maka
tidak diterima taubatnya. Ibnu Taimiyah mengarang kitabnya dalam
masalah tersebut.

Yang dimaksud dengan hukum tersebut adalah
memberikan kesempatan kepadanya agar melihat kembali dirinya, dengan
harapan agar syubhat itu bisa hilang dan hujjah semakin kuat, jika ia
ingin mencari kebenaran dengan ikhlas, meskipun ia juga memiliki hawa
nafsu atau berbuat sesuatu atas perhitungan orang lain, Allah akan
menolongnya.

Ada sementara kalangan orangyang mengatakan bahwa
yang berhak menerima taubat itu Allah, bukan manusia. Tetapi itu hukum
di akhirat, adapun hukum di dunia maka kita menerima taubat yang nampak
dan kita menerima Islam yang zhahir. Dan kita memang tidak ingin
melubangi hati manusia, karena kita telah diperintahkan untuk
menghukumi dengan zhahirnya, sedangkan Allah yang mengurus yang tidak
nampak. Tersebut dalam hadits shahih bahwa barangsiapa yang mengatakan
"Laa ilaahaillallaah" maka ia terpelihara darah dan hartanya. Adapun
hisabnya ada pada Allah SWT sesuai dengan apa yang ia yakini.

Di sinilah kita katakan bahwa sesungguhnya
menghukumi kepada seseorang dengan murtad, kemudian menetapkan bahwa ia
berhak dihukum serta menentukan hukuman mati dan tidak ada lainnya dan
melaksanakan hukum itu tanpa kehati-hatian, maka yang demikian ini
membawa bahaya besar terhadap darah, harta dan kehormatan bagi manusia.
Karena ini berarti memberikan kepada orang biasa yang tidak ahli di
bidang fatwa tidak pula memiliki hikmah ahlil qadha’, dan tidak
memiliki tanggung jawab ahli tanfidz tiga kekuasaan di tangannya,
memberi fatwa (dengan menuduh), memvonis hukumannya dan melaksanakannya
sekaligus.

————-

Sistem Masyarakat Islam dalam Al Qur’an & Sunnah
 
(Malaamihu Al Mujtama’ Al Muslim Alladzi Nasyuduh)
 
oleh Dr. Yusuf Qardhawi
 
Cetakan Pertama Januari 1997
 
Citra Islami Press
 
Jl. Kol. Sutarto 88 (lama)
 
Telp.(0271) 632990 Solo 57126

http://media.isnet.org/islam/Qardhawi/Masyarakat/Perhatikan.html

-al-qayyim.net-

Hakikat Islam Sebelum Di Utuskan Nabi Muhammad

Tuesday, December 19th, 2006

Soal:
Adakah wujudnya Islam sebelum Nabi Muhammad  diutuskan? Apakah maksud ayat ini:
"مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلاَ نَصْرَانِيًّا وَلَكِن كَانَ حَنِيفًا مُّسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ"
"Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik." (Ali-’Imran:67)

Jawab:
Islam itu bermaksud menyerahkan diri dan hati kepada Allah ‘Azza wa Jalla, iaitu menyembah Allah semata-mata dgn ikhlas.

Ini bermakna, Allah telah mengutuskan para Rasul dan diturunkan Kitab kpd mereka. Islam dgn ini bermaksud mentauhidkan Allah, setiap urusan penganutnya adalah dikira ibadah, ia juga adalah agama setiap Nabi, tidak ada agama selainnya, ia tidak sama dgn agama-agama lain yg bkn dari langit dan tidak diturunkan nabi da kitab pdnya.

Agama setiap para Nabi adalah Islam. Firman Allah Ta’ala:-
وما أرسلنا من قبلك من رسول إلا نوحي إليه أنه لا إله إلا أنا فاعبدون"

Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku." (al-Anbiya’:25)

Setiap para Nabi datang dgn dakwah yg satu iaitu menyembah hanya kpd Allah dan menjauhi taghut. Firman Allah:-
"إن الدين عند الله الإسلام"

"Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam." (Ali-’Imran:19)
Tiada agama lain di sisi Allah Ta’ala selainnya.

Allah berfirman lagi:-
"ومن يبتغ غير الإسلام دينًا فلن يقبل منه، وهو في الآخرة من الخاسرين"
"Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi." (Ali-’Imran:85)

Dan di sini kita dapati Nabi Nuh ‘alayhi as-salam telah berkata kpd kaumnya:-
"فإن توليتم فما سألتكم من أجر، إن أجرى إلا على الله وأمرت أن أكون من المسلمين"
"Jika kamu berpaling (dari peringatanku), aku tidak meminta upah Sedikit pun dari padamu. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah belaka, dan aku disuruh supaya aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri (kepada-Nya)." (Yunus:72)

Berkata pula Nabi Ibrahim ‘alayhi as-salam:-
"إذ قال له ربه أسلم قال أسلمت لرب العالمين، ووصى بها إبراهيم بنيه ويعقوب: يا بني إن الله اصطفى لكم الدين فلا تموتن إلا وأنتم مسلمون"

"Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: ""Tunduk patuhlah!"" Ibrahim menjawab: ""Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam. Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Yakub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam." (al-Baqarah: 131-132)

Nabi Musa ‘alayhi as-salam pula berkata kepada kaumnya:-
"يا قوم إن كنتم آمنتم بالله فعليه توكلوا إن كنتم مسلمين"
"Berkata Musa: ""Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah, maka bertawakkallah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang yang berserah diri." (Yunus:84)

Hawariyyun, pengikut Nabi Isa ‘alayhi as-salam pula berkata:-
"آمنا بالله وأشهد بأنا مسلمون"

"Kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri." (Ali-’Imran:52)

Ahli sihir Firaun yg telah beriman berkata:-
"ربنا أفرغ علينا صبرًا وتوفنا مسلمين"

"Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan wafatkanlah kami dalam keadaan berserah diri (kepada-Mu)." (al-A’raf:126)

Nabi Sulaiman ‘alayhi as-salam telah mengutuskan kpd Ratu Balqis dan telah berkata kpdnya selepas Bismillah:-
"ألا تعلو عليّ وأتوني مسلمين"Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang berserah diri." (an-Naml:31)

Islam adalah agama sekalian para Nabi dan mereka menyeru manusia kepadanya serta mereka diakui dgn Islam. Nabi Muhammad adalah penutup agama ini, dtgnya utk menyempurnakan syariat , membetulkan apa yg terseleweng, yg ditambah atau yg terkurang.

Sabda Nabi :
"إنما بعثت لأتمم مكارم الأخلاق "
"Sesungguhnya aku diutuskan utk menyempurnakan akhlak." (Diriwayatkan Bukhari, Ahmad, Baihaqi dan al-Hakim)

Islam adalah agama semua para nabi. Adalah sesuatu yg pelik utk mengatakan Nabi Ibrahim ‘alayhi as-salam adalah Yahudi atau Nasrani. Allah berfirman:-
مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلاَ نَصْرَانِيًّا وَلَكِن كَانَ حَنِيفًا مُّسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ"Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang musyrik." (Ali-’Imran:67)
Sesungguhnya baginda adalah penganut ajaran yg hanif. Nabi Ibrahim lah yg menamakan kita Muslimin. Untuk ini, dia tidak dinisbahkan agama ini utk mempunyai nama yg khusus dan Allah Ta’ala tidak menamakan agama ini melainkan ISLAM. Islam adalah agama samawi yg asal, yg diturunkan oleh Allah utk menunjuki hamba-hambanya. Dan Allah telah mengutuskan para Rasul. Tidak dinamakan agama ini dgn nama ‘Muhammadiah’ seperti mana ‘Masihiah’ yg menisbahkan agama mereka kepada al-Masih Isa ibn Maryam:-
"شرع لكم من الدين ما وصى به نوحًا والذي أوحينا إليك وما وصينا به إبراهيم وموسى وعيسى أن أقيموا الدين ولا تتفرقوا فيه"

"Dia telah mensyariatkan kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya." (as-Syura:13)

Islam adalah himpunan aqidah dan ibu kpd akhlak serta kemuliaan yg dibawa oleh sekalian para Nabi. Terdapat juga beberapa perbezaan antara syariat yg dibawa oleh para Nabi, iaitu perbezaan syariat yg terperinci utk mengatur hidup manusia, bersesuaian dgn keadaan semasa, zaman dan generasi. Allah berfirman:-
"لكل جعلنا منكم شرعة ومنهاجًا"

Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang." (al-Ma’idah:48)

Ada juga perkara yg diharamkan dlm satu2 syariat tetapi dihalalkan pula dalam syariat yg lain. Sebagaimana yg diterangkan oleh al-Quran mengenai al-Masih Isa ‘alayhi as-salam:-
"ولأحلّ لكم بعض الذي حُرّم عليكم"

"..dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu.." (Ali-’Imran:50)

Kemudian syariat Islam datang membatalkan syariat yg sebelumnya, mengekalkan apa yg baik, menghapuskan apa yg menyeleweng, menyempurnakan apa yg kurang dan diaturkan satu syariat yg kekal dan sesuai utk maslahah setiap masa dan tempat.

Sumber:
http://islamonline.net/fatwa/arabic/FatwaDisplay.asp?hFatwaID=1268

-al-ahkam.net-

Kaitan Solat Istikharah Dengan Mimpi

Thursday, December 14th, 2006

Soal:
Adakah terdapat nas syara’ yg mengaitkan solat istikharah dgn mimpi? Jika begitu, apakah boleh seseorg yg bersolat istikharah itu di pagi hari dan mendapat jawapannya pada ptg hari? Adakah tuntutan mengulangi solat istikharah itu sebanyak tujuh kali khususnya terdapat hadith yg menyuruh utk mengulangnya?

Jawab:
Solat istikharah tiada kaitannya dgn mimpi. Ia adalah solat 2 rakaat dgn doa yg ma’thur dari Nabi saw. Dan diikuti dgn itu amal yg akan Allah pilihkan baginya. Jika ia baik utknya, maka Allah akan menyampaikan pdnya, dan jika ia tidak baik, maka Allah akan jauhkan darinya.
Dan tiada pula yg menghadkan solat istikharah itu sebanyak tujuh kali, dan tidak pula ditetapkan apa-apa bilangan. Bahkan tiada hadith yg menganjurkan utk mengulangnya. Hadith yg diriwayatkan oleh Ibn Sunni dari Anas radhiyallu ‘anhu yg mengatakan istikharah itu tujuh kali, tidak boleh beramal dgnnya kerana hadith itu sgt dha’if.

Allahu’alam..

Sumber:
http://www.islamonline.net/fatwa/arabic/FatwaDisplay.asp?hFatwaID=18717

-al-ahkam.net-

Fatwa: Hukum Memakai Kanta Sentuh Berwarna

Tuesday, December 5th, 2006

Soal:
Apakah hukum memakai kanta sentuh yang berwarna terutamanya bagi wanita?

Jawab:
Di sini kami suka untuk memetik fatwa dari Syeikh ‘Atiyyah Saqr, bekas ketua Lajnah Fatwa al-Azhar:

"Saya fikir apabila seorang lelaki menggunakan kanta sentuh, mereka akan menggunakannya utk tujuan perubatan. Maka tiada sebarang masalah mengenai hukum dalam perkara ini kerana kanta sentuh juga berfungsi seperti kaca mata. Apa jua hukum yang jatuh pada kaum lelaki (mengenai hukum kanta sentuh) maka hukumnya begitu juga pada kaum wanita.

Walau bagaimanapun, apabila seorang wanita itu menggunakan kanta sentuh untuk tujuan memperlihatkan kecantikan dan menarik perhatian lelaki, maka ia adalah dilarang.

Ia merupakan tabiat sesetengah remaja perempuan pada hari ini yang memakai kanta sentuh yang berwarna-warni dan memilih warna hijau untuk menarik perhatian and penampilan diri. Jadi, hukum di sini berdasarkan niat dan tujuan seseorang. Jika tujuan seseorang wanita itu adalah untuk menarik perhatian dan berunsur penipuan. Dalam hal yang demikian, memakai kanta sentuh berwarna adalah dilarang."

Syeikh Ahmad Kutty, Imam dan Pengarah Agama di Pusat Islam Toronto, berkata:
"Syariah meliputi maslahah manusia melalui 3 bahagian, dharuriyat (tidak dapat hidup tanpanya), hajiyyat (keperluan) dan tahsiniyat (untuk memperelokkan). Hukum-hakam syariah bertujuan untuk merealisasikan kehidupan manusia berdasarkan masalih ini.

Mengenai hal memakai kanta sentuh berwarna bagi wanita, saya suka untuk mengajukan soalan ini: Adakah ia termasuk salah satu daripada 3 bahagian masalih itu tadi? Saya tidak dapat katakan ia dharuriyat, hajiyyat atau tahsiniyat. Maka saya tertanya-tanya mengapakah mereka perlu melakukan sedemikian rupa?

Kosmetik moden zaman ini banyak bertujuan untuk mengubah ciptaan Allah pada manusia seperti mengubah warna mata. Allah telah mengurniakan kecantikan kepada wanita dan dia dapat berhias dan mempercantikkan diri di hadapan suami tanpa perlu melampaui batas atau melakukan sesuatu yang dianggap jelik di sisi syariah.

Saya tidak kata memakai kanta sentuh berwarna ini adalah haram kerana ia tidak melibatkan sesuatu yang mengakibatkan warna mata itu berubah selama-lamanya. Tetapi saya dapat klasifikasikan ia sebagai berlebih-lebihan dalam memperindahkan diri yang mana ia tidak dianjurkan dalam Islam. Islam adalah satu agama yang menganjurkan kesederhanaan tidak menggalakkan perkara sedemikian rupa.

Syeikh Saleh Munajjid, seorang pensyarah dari Saudi, pula berkata:

"Terdapat 2 jenis kanta sentuh:

1) Kanta sentuh ophthalmic : Digunakan untuk memulihkan penglihatan. Tidak mengapa menggunakan kanta sentuh ini dengan mendapat nasihat dari pakar.

2) Kanta sentuh berwarna : Ia dihukumkan sebagai bertabarruj (berhias). Jika dia memakainya untuk suami, maka tidak mengapa. Jika dia memakai untuk orang lain melihatnya, maka tidak boleh berlaku sebarang fitnah atau menarik perhatian orang. Ia juga tidak boleh membahayakan si pemakai dan tiada unsur-unsur penipuan. Contohnya, seorang perempuan memakai kanta sentuh untuk berjumpa dengan bakal suaminya.

Allahu’alam.

Sumber:
http://www.islamonline.net/servlet/Satellite?pagename=IslamOnline-English-Ask_Scholar/FatwaE/FatwaE&cid=1119503544976

-al-ahkam.net-

Pemuda Bani Tamim

Sunday, December 3rd, 2006

Pemuda Bani Tamim: Antara Ashaari dan Ahmadi Nejad

Oleh: Maszlee Malik

Ketika artikel ini ditulis, kumpulan Rufaqa sedang menghadapi waktu yang getir. Penangkapan dikenakan ke atas sebilangan ahli mereka di seksyen 13 Shah Alam. Mereka ditahan di atas tuduhan mengamalkan ajaran yang telah diharamkan oleh Majlis Fatwa Kebangsaan dan juga oleh kerajaan Malaysia.

Pemuda Bani Tamim Dari Rembau

Cerita mengenai Pemuda Bani Tamim di Malaysia dipopularkan oleh para pengikut jamaah al-Arqam. Mereka beriktiqad bahawa Syeikh Suhaimi, pengasas Aurad Muhammadiyah adalah Imam al-Mahdi. Mereka juga meyakin bahawa al-Mahdi tersebut akan dibantu oleh seorang pemuda dari Bani Tamim. Pemuda Bani Tamim adalah satu individu yang merujuk kepada riwayat-riwayat yang mengatakan bahawa Imam al-Mahdi akan dibantu oleh seorng pemuda berketurunan Tamim yang bernama Syuib bin Salih. Walau bagaimanapun riwayat-riwayat tersebut bukanlah riwayat yang masyhur di kalangan para ulama muktabar ketika membicarakan persoalan al-Mahdi.

Menurut Ashaari Muhammad, pengasas jamaah Darul Arqam ataupun al-Arqam, pemuda tersebut adalah dirinya sendiri. Para pengikut beliau pula meyakini juga bahawa Abuya mereka, Ashaari bin Muhammad adalah pemuda tersebut. Menurut mereka juga, Ashaari selaku pembantu Bani Tamim akan dibantu oleh Asoib, iaitu pengikut-pengikutnya dari kalangan ahli jamaah al-Arqam. Hal berkaitan pemuda Bani Tamim ini telah banyak mereka bincangkan semenjak tahun 1992 lagi. (Lihat: Ann Wan Seng, Rahsia al-Arqam, KL: PTS Publication, hal. 84-86)

Antara buku-buku yang bercerita mengenainya ialah buku "Timur dan Khurasan dalam jadual Allah" tulisan Pahrol Mohamad Juoi, buku "Pemuda Bani Tamim Perintis Jalan Imam Mahdi" tulisan Abu Muhammad Atta, buku "Malaysia Daulah Pemuda Bani Tamim" tulisan Dr Ahmad Fauzi Abdul Hamid, dan buku "Dakwah Islam dalam Perspektif Ashaari Muhammad" oleh Dr. A. Tasman Ya’cub.

Selepas jamaah al-Arqam diharamkan pada tahun 1994, ramai yang menyangkakan doktrin ini akan terus hilang. Malangnya, walaupun ianya diharamkan di Malaysia, namun di luar negara, para pengikut al-Arqam terus aktif bergerak dan menjalankan aktiviti mereka. Di dalam negara pula, mereka telah bermetamorfosis menjadi Rufaqa. Dengan lebih 500 cawangan di seluruh negara sehingga tahun 2005, Rufaqa meneruskan semula perjuangan al-Arqam. (Lihat: Ashaari Muhammad, Nasihat buatmu bekas kawan-kawan lamaku, hal. 68).

Buku-buku yang dihasilkan selepas pengharaman al-Arqam dengan jelas menunjukkan perkara tersebut. Segala riwayat-riwayat yang berkaitan dengan "Pemuda Bani Tamim" telah cuba diserasikan oleh para pengikut al-Arqam dan kemudiannya Rufaqa dengan Ashaari. Ashaari mengganggap ianya sebagai ijtihad beliau, dan inilah hujah yang diguna pakai oleh para pengikut mereka. Perbincangan lanjut mengenai isu ini telah dikupas dengan baik oleh Dr Abdul Rahman Abdullah di dalam bukunya, "Gerakan Tradisional Islam Di Malaysia: Sejarah Pemikiran Jamaat Tabligh Dan Darul Arqam", terbitan Karisma Publication, dari halaman 117 sehingga 121.

Kesimpulannya, bagi para pengikut al-Arqam dan juga Rufaqa meyakini bahawa Pemuda Bani Tamim yang akan muncul membantu Imam al-Mahdi adalah Ashaari Muhammad yang dilahirkan di Rembau Negeri Sembilan pada tahun 1938. Mereka juga percaya bahawa, Ashaarilah yang akan membantu Imam al-Mahdi iaitu Syeikh Suhaimi untuk menguasai dunia. Mereka juga percaya, bahawa mereka adalah tentera-tentera al-Mahdi.

Pemuda Bani Tamim dari Tehran

Sepertimana lain-lain kumpulan berteraskan aqidah "Masionic" (menantikan penyelamat atau Messiah), Syiah juga tidak ketinggalan mempunyai iktiqad berkaitan pemuda Bani Tamim. Antara teras aqidah Syiah Imamiyah ialah kedatangan Imam al-Mahdi. Imam ke-12 (Muhammad bin Hassan al-Askari) menurut aqidah Syiah itu akan muncul menjelang akhir zaman untuk mendaulatkan Islam selepas beliau menghilangkan diri berkurun-kurun lamanya. Imam al-Mahdi juga menurut kepercayaan Syiah akan membawa kebahagiaan kepada manusia sedunia (al-Syahrastani, al-Milal wa al-Nihal, hal. 165).

Menurut aqidah Syiah, Imam al-Mahdi yang akan muncul itu akan dibantu oleh Syuib bin Saleh, atau juga yang dikenali sebagai pemuda Bani Tamim. Di dalam buku al-Syiah wa al-Raj’ah, kaum Syiah ada meriwayat kata-kata Ammar bin Yasir yang mengatakan : "Syuib bin Salih akan bersama panji al-Mahdi". (di dalam "al-Syiah wa al-Raj’ah, j. 1, hal. 211", rujuk: www.wahamb.spaces.lives.com).

Di dalam riwayat yang lain pula, ada disebutkan: "Yang akan mengetuai tentera al-Mahdi adalah pemuda dari (Bani) Tamim, (beliau) berjanggut jarang dan dipanggil sebagai Syuib bin Salih". (Lihat Ibn Hammad, al-Fitan, hal. 8)

Menurut riwayat-riwayat yang menceritakan sifat-sifat Syuib bin Salih, ialah: Beliau adalah seorang pemuda yang berkulit sawo matang, berbadan kurus, janggutnya jarang, pemimpin tentera, seorang yang tegas, seorang tentera yang berpengalaman, dan juga beliau berasal dari al-Ray (Iran).

Ciri-ciri tersebut menurut sesetengah golongan Syiah, terdapat pada Ahmadi Nejad ataupun  "Ahmadi Nazod", presiden Iran sekarang. Berdasarkan fakta ini, seorang ulama Syiah, Syeikh Misbah al-Yazdi, yang juga merupakan penasihat spritual kepada Ahmadi Nejad telah menegaskan bahawa Ahmadi Nejad merupakan Syuib bin Salih atau pemuda Bani Tamim tersebut. Beliau telah mengatakan perkara tersebut di dalam akhbar berbahasa Arab, al-Syarq al-Awsat bertarikh 13 November 2005.

Kenyataan beliau dikuatkan lagi dengan jolokan yang diberikan rakyat Iran kepada Ahmadi Nejad. Beliau digelar sebagai "Mard Dimyar" atau "Mard Soleh" yang bermaksud "Pemuda yang salih". Beliau yang disayangi rakyat juga digelar sebagai "Notijat Sya’bi Salih" yang bermaksud "Syuib bin Salih". Hal ini telah disentuh oleh seorang penulis Syiah dari Lubnan Syadi al-Faqeh di dalam bukunya, "Ahmadi Nejad  Wa al-Thawrah al-Alamiyyah al-Muqbilah" (hal. 75-76).   

Sepertimana gurunya, Ahmadi Nejad juga meyakini bahawa umat Islam sedunia sekarang berada di ambang kemunculan Imam al-Mahdi yang mereka nanti-nantikan. Pelbagai ramalan dan tilikan telah dilakukan oleh para ulama Syiah sekarang demi memadankan riwayat-riwayat dari imam-imam mereka tentang al-Mahdi dan peristiwa di zaman kemunculannya agar serasi dengan zaman sekarang. Sepertimana al-Aqam, Syiah yang lebih luas pengaruhnya di serata dunia juga turut mengakui bahawa merekalah tentera al-Mahdi. Peperangan Hizbullah-"Israel", nuklear Iran dan juga ancaman dari AS dianggap sebagai mukadimah kepada kemunculan al-Mahdi. Kesimpulannya, Syiah juga turut mencalonkan Ahmadi Nejad untuk mengisikan kekosongan jawatan Syuib bin Salih, pemuda Bani Tamim.

Siapakah sebenarnya Pemuda Bani Tamim?   

Persoalannya kini, siapakah sebenarnya pemuda Bani Tamim?, adakah beliau seorang Melayu yang dilahirkan di Negeri Sembilan?, ataupun dia seorang pemimpin negara yang berasal dari Ardibil, Iran?

Seperkara yang menarik mengenai kedua-dua calon Pemuda Bani Tamim tersebut ialah kedua-duanya bukanlah orang Arab dan bukanlah berasal dari Bani Tamim. Apa yang menarik juga ialah, kedua-dua calon berkenaan mempunyai Imam Mahdi yang berbeza. Seorang menantikan Imam Mahdi yang berasal dari Indonesia, manakala seorang lagi menantikan Imam Mahdi yang akan muncul dari Sirdabnya di Iraq. Lebih malang lagi nasib buat jawatan Imam al-Mahdi, bukan hanya dua orang calon dari Indonesia dan Iraq itu sahaja yang ada, malah ribuan calon al-Mahdi lain, sejak dari dulu, kini dan masa akan datang bersedia untuk mengisikan kekosongan jawatan tersebut. Setiap tarekat Sufi mempunyai calon masing-masing, setiap firaq (kumpulan) Syiah mempunyai calon mereka yang tersendiri, dan setiap kumpulan ajaran-ajaran sesat yang lain juga mempunyai calon mereka yang tersendiri. Ini bermaksud, jawatan Pmuda Bani Tamim juga bukanlah hanya milik kedua-dua calon dari Malaysia dan Iran. Ribuan lagi para penanti al-Mahdi yang bersedia untuk dinobatkan sebagai "Pemuda Bani Tamim".

Tidakkah kita belajar dari pengalaman-pengalaman yang lepas. Bukankah ajaran-ajaran sesat dan agama-agama baru banyak yang muncul akibat Mahdi-Mahdi yang pernah muncul. Di kalangan Syiah sendiri pun, ajaran Bahaiyyah, Nusayriyah dan lain-lain lagi merupakan produk kemunculan Mahdi di zaman-zaman lampau dari kelompok mereka. Begitu juga halnya dengan ajaran-ajaran sesat lain yang turut timbul dari kumpulan-kumpulan sufi yang telah disesatkan oleh Mahdi-Mahdi mereka.

Persoalannya, apakah riwayat mengenai al-Mahdi dan Pemuda Bani Tamim benar-benar kuat dan qat’iyy? Kita serahkan kepada pakar-pakar hadith untuk meneruskan perbincangan seterusnya….

-al-ahkam.net-

Apabila Golongan Agama Menyebabkan Agama Menjadi Lemah

Friday, December 1st, 2006

Pada bulan September
lepas saya turut membentangkan kertas kerja dalam Seminar Hukum di UM.
Ramai yang email dalam meminta bahan tersebut dari saya kerana mereka
tidak dapat hadir. Secara umum fokus kertas kerja saya mengenai Islam
Liberal. Saya cuba menjelaskan tentang kelemahan golongan agama di
sudut pemikiran, ilmu dan sikap telah menjadi punca munculnya
aliran-aliran yang menyanggahi agama yang tulen.

Dunia Islam yang sepatutnya menerajui
tamadun pembangunan insan dan kebendaan telah mundur dan hilang
peranan. Hasil dari hilangnya akidah yang menjadi asas tamadun umat,
maka hilanglah tamadun. Bahkan sebahagian masyarakat Islam hidup dalam
kesyirikan dan khurafat yang tebal. Lihat sahaja apa yang wujud di
Indonesia, Mesir dan Morocco. Mereka bukan sahaja ketinggalan zaman,
mereka juga ketinggalan Islam yang tulen.

Bahkan ada istiadat dan pegangan bangsa yang
menyanggahi syarak menggantikan tempat agama. Wanita Islam di Pakistan
umpamanya, begitu ditindas di sudut hak sebagai wanita, bahkan sebagai
insan. Anak perempuan bagaikan hak dagangan bapanya yang mempunyai
kuasa mutlak mengahwinkan dia kepada sesiapa yang dikehendakinya tanpa
diizinkan sebarang bantahan dari empunya tubuh. Isteri pula bagaikan
hamba abdi suaminya yang diberi kuasa oleh budaya setempat memukul dan
menyiksa.

Wajah-wajah buruk bangsa yang menganut Islam ini
telah benar-benar menconteng keindahan Islam di mata dunia. Setelah
menggambarkan keagungan generasi Islam yang lampau, ‘Ali Tantawi
berkata: “Mijoriti kaum muslimin hari ini, disebabkan kecuaian mereka
dengan kewajipan-kewajipan agama ini, maka mereka berada di belakang
umat-umat yang lain, mereka menjadi hujah untuk musuh-musuh Islam
(menghina Islam-pen). Sehingga Jamal al-Din al-Afghani, atau Muhammad
‘Abduh menyebut perkataan yang hebat: “Islam itu terlindung oleh
penganutnya”.( ‘Ali Tantawi, Mauqifuna min al-Hadarat al-Gharbiyyat, m.s. 45, Jeddah: Dar al-Manarah (1986))

Secara umumnya, kemunduran ini berpunca dari
beberapa faktor. Jika difokuskan kepada pemikiran hukum atau
perkembangan pegangan syariat di dunia Islam, faktor-faktor berikut
menjadi penyumbang utama:

 

i. Hilangnya Teras Akidah Dalam Penyampaian Syariat

Hilang kefahaman yang betul terhadap tuntutan syahadatain.
Islam tidak difahami bermula dari persoalan akidah. Pada hal itu adalah
teras dan asas. Maka syirik serta khurafat berluluasa dalam Dunia
Islam. Syirik, tahyul dan khurafat telah menghilangkan Islam tulen yang
merupakan teras kepada ketamaduan. Bermula dari tangkal, mentera
syirik, sehingga kepada meyakini sistem yang lain setanding dengan
Islam. Kata Muhammad Qutb: (Berpunca) daripada kemunduran
akidah, timbullah segala macam kemunduran yang menimpa Dunia
Islam..kemunduran ilmu, ketamadunan, ekonomi,peperangan, pemikiran dan
kebudayaan.( ‘Ali Tantawi, Mauqifuna min al-Hadarat al-Gharbiyyat, m.s. 45, Jeddah: Dar al-Manarah (1986)

Ramai muslim yang akidah mereka menyimpang dari
daerah kemurnian menuju kesesatan, bahkan mungkin ke arah kemurtadan.
Di sesetengah negeri pengajaran tentang perkara-perkara yang
membatalkan wuduk, solat, puasa
dan beberapa tajuk-tajuk fekah yang lain lebih diutamakan dibandingkan
dengan pengajaran mengenai perkara-perkara yang membatalkan akidah.
Hasilnya, ramai muslim yang mengetahui perkara-perkara yang membatalkan
wuduk, solat, puasa dan seumpamanya, namun jahil tentang
perkara-perkara yang membatalkan iman.

Jika pun dibincangkan persoalan
akidah, mereka dipengaruhi pula oleh falsafah Greek lama yang
kadang-kala perbincangannya tidak membawa sebarang kekuatan kepada
akidah, bahkan kepada kepenatan akal dan kecelaruan sahaja. Ini seperti
Allah ada lawannya tiada, dengar lawannya pekak, melihat lawannya buta,
tidak berjisim, tidak berjirim dan seumpamanya. Kemudian
diikuti dengan falsafah-falsafahnya yang memeningkan. Sehingga guru
yang mengajar pun tidak faham. Untuk mengelakkan dia dipersoalkan dia
akan berkata: “Barang siapa banyak bertanya maka lemahlah imannya…”.
Maka akidah sebenar hilang dalam kepincangan perbahasan falsafah kalam
warisan Greek dan Yunan.

Akidah yang diajar oleh Nabi s.a.w
adalah akidah yang bersih dan mudah difahami. Dalam ajaran Islam,
persoalan tauhid dan akidah adalah perkara yang paling mudah dan senang
untuk dimengertikan oleh semua lapisan umat. Ini kerana persoalan
akidah mesti difahami oleh mereka yang buta huruf, badawi di padang
pasir sehinggalah kepada golongan yang terpelajar dan cerdik pandai.
Kalaulah perbahasan akidah begitu sukar dan susah seperti yang difahami
oleh golongan ahli kalam dan falsafah, bagaimana mungkin golongan awam
yang buta huruf atau tidak memiliki kecerdasan akal yang tinggi untuk
memahaminya?!!. Malangnya kemasukan pengaruh Yunan ke dalam pemikiran
sebahagian umat Islam telah menyebabkan mereka menjadikan ilmu kalam
sebagai akidah dan meminggirkan persoalan-persoalan asasi dalam akidah
Islamiyyah. Kata Dr Yusuf al-Qaradawi:
“Tambahan pula, perbahasan ilmu kalam, sekalipun mendalam dan kepenatan
akal untuk memahami dan menguasainya, ia bukannya akidah….Lebih
daripada itu perbahasan ilmu kalam telah terpengaruh dengan pemikiran Yunan dan cara Yunan dalam menyelesaikan masalah akidah. Justeru itu imam-imam salaf mengutuk ilmu kalam dan ahlinya serta berkeras terhadap mereka”. (Al-Qaradawi, Thaqafat al-Dai‘iyat, m.s. 92 Beirut: Muassasah al-Risalat (1991)

 Kemuncak dan tujuan daripada perbahasan tauhid ilmu kalam ialah untuk membuktikan keesaan Allah dan tiada sekutu baginya. Mereka menyangka ini yang dimaksudkan dengan tuntutan La ilah illa Allah. (Lihat: Dr Sulaiman al-Asyqar,  Al-akidat fi Allah m.s 32-33. Kuwait : Maktabat al-Falah (1984) Sedangkan akidah La ila illa Allah bukan sekadar percaya Allah itu wujud dan bersifat dengan sifat-sifatNya yang sempurna. Bahkan La ilah illa Allah adalah seruan untuk mengabdikan diri kepada Allah. Hukum-hakam syarak dibina di atas tuntutan ini.

Dengan hilangnya teras La ilah illa Allah maka penyampaian hukum-hakam syarak menjadi hambar dan hilang kekuatan terasnya.

 

ii. Ancaman Bid’ah Dalam Amalan Syariah

 Kemasukan fahaman-fahaman
karut yang dianggap agama telah melemah dan merosakkan wajah Islam yang
tulen. Amalan-amalan bid’ah telah menghilangkan fokus umat terhadap
pembangunan minda dan kefahaman yang jitu. Kata Abu al-Hasan ‘Ali al-Nadwi:
“Halangan-halangan syirik, kejahilan dan kesesatan hampir menutupi
tauhid Islam yang bersih. Maka masuk ke dalam sistem agama
bid’ah-bid’ah yang mengambil tempat yang luas dalam kehidupan muslimin
dan ia memalingkan mereka dari agama yang sahih dan kehidupan dunia.
Sedangkan keistimewaan dan kelebihan muslimin dibandingkan umat-umat
yang di dunia ini hanyalah disebabkan agama ini, yang dibawa oleh
Muhammad s.a.w. Keistimewaan dan mukjizat agama ini pula ialah pada
kesahihan dan keasliannya. Ia menjadi istimewa kerana ia wahyu Allah
dan syariatNya. Yang mencipta peraturannya (agama ini) ialah Tuhan
Tidak Dapat Dicabar, dan yang membuat syariatnya ialah Tuhan Yang Maha
Bijaksana “Diturunkan dari Yang Maha Bijaksana Lagi Terpuji”(Fussilat:
42). Apabila akal, perbuatan dan hawa nafsu manusia masuk ke dalam
agama ini, maka tiada lagi kelebihannya ke atas agama-agama lain yang
diselewengkan oleh pengikut agama-agama itu dan peraturan yang ditenun
oleh tangan manusia, melainkan dengan kadar wahyu yang masih tinggal
terpelihara padanya. Tidak lagi menjadi penjamin penjamin kebahgiaan
dunia dan akhirat dan tidak lagi benar-benar menundukkan akal dan
menarik manusia kepadanya”.( Abu al-Hasan al-Nadwi, Madha Khasira al-‘Alam bi Inhitat al-Muslimin, m.s. 195, Kaherah: Maktabat al-Sunnat (1990)

 

iii. Golongan Agama Yang Lemah

 Dalam sejarah Islam,
golongan agama adalah tonggak kepada kebangkitan umat. Islam yang
syumul telah membentuk pemikiran para ulama agar kritis, maju dan
membangun. Golongan ulama yang berkualiti ini terus wujud di sepanjang
zaman. Namun jumlah dan penguasaan mereka berbeza dari satu zaman ke
satu zaman. Jumlah para ulama yang berkualiti seperti yang disebut
dalam hadith ini adalah kurang:

 

 “Akan selalu membawa ilmu ini mereka
yang adil dari para penyambung (dari setiap generasi); mereka menafikan
(menentang) penyelewengan golongan yang melampaui batas, dakwaan bohong
golongan yang batil dan takwilan golongan yang jahil” (Hadith ini
hasan. Para ulama berkhilaf pendapat mengenai kedudukan hadith ini.
Sebahagian mereka mensahihkan, sebahagian mendhaifkannya. Ibn al-Qayyim
dalam Miftah Dar al-Sa‘adah menyatakan hadith ini thabit. Beliau menghimpunkan jalan-jalan periwayatan hadith. Beliau turut menyebut kata-kata al-Imam Ahmad: “Ia hadith sahih” (lihat: Ibn Qayyim al-Jauziyyah, Miftah Dar al-Sa‘adah,
m.s 227-229, Saudi: Dar Ibn Hazm). ‘Ali Hasan al-Halabi menilai hadith
ini sebagai hasan disebabkan jalan periwayatan yang banyak. (Sadiq
Hasan Khan, Al-Hittah fi Dhikr al-Sihah al-Sittah, tahqiq: ‘Ali Hasan al-Halabi, Beirut: Dar al-Khail). Demikian Salim bin ‘Id al-Hilali menyatakan hadith ini hasan. Bahkan beliau menulis buku khas menerangkan kesabitan hadith tersebut (lihat: Salim bin ‘Id al-Hilali, Limadha Akhtartu al-Manhaj al-Salafi, m.s. 63 Saudi: Dar Ibn al-Qayyim (2000)

 

Walaupun wujud, tetapi tidak ramai. Mungkin juga
banyak ulama seperti itu, dan pengikut mereka juga ramai, namun secara
nisbah jumlah umat yang wujud, mereka masih dianggap kecil.

Kata Muhammad Qutb ketika membincangkan tentang
kemunduran ilmu, tamadun, ekonomi pemikiran dan budaya di Dunia Islam:
“Dari sudut yang lain, dijumudkan ilmu-ilmu syarak dalam bentuk yang
dipelajari sebelum lima kurun lalu - sekurang-kurangnya-. Ditambah
dengan masuk ke dalamnya serangan pemikiran Greek dari ilmu kalam yang
tidak berguna dan bermanfaat. Lebih dari itu ilmu kalam telah
menukarkan pengajian akidah kepada perkara-perkara yang menyusahkan
minda lagi tidak berguna dan memayahkan. Mengubah akidah dari inti
kandungan yang hidup kepada isu-isu falsafah yang membawa kepada
pertengkaran tanpa sebarangan natijah dan tujuan. Lebih daripada itu
pelajar-pelajar agama telah bertukar menjadi para penghafal bukan
pemikir. Seseorang pelajar kelihatan berilmu hanya dengan kadar apa
yang dia hafal daripada teks, syarah dan nota kaki. Namun dia tidak
dapat berfikir untuk dirinya dan tidak juga dapat berfikir secara
sendiri. Maka para ulama kehilangan keaslian ilmu, jadilah mereka itu
golongan taklid yang hanya memetik dari orang lain. Bahkan ditambah
lagi keburukan ketiga, iaitu taksub mazhab yang mengenai keseluruhan
para pelajar. Setiap orang taksub dengan mazhab yang dia membesar di
dalamnya. Dia menjadikan kemuncak jihadnya untuk agamanya, semata-mata
untuk membuktikan mazhab dan syeikhnya melebihi mazhab dan syeikh orang
lain..”.( Muhammad Qutb, Waqi‘una al-Mu‘asir, m.s. 176.)

Golongan agama dikuasai oleh golongan yang lemah
kemampuannya. Singkat pula penguasaannya terhadap nas-nas agama dan
pengetahuan semasa. Golongan yang mempelajari agama bukan lagi
terpilih. Sehingga orang melayu umpamanya, menganggap mana-mana anak
yang kurang kemampuan akademik, dihantar ke pengajian agama atau
pondok. Akhirnya lahirlah golongan ustaz dan tok guru yang lemah
kekuatan minda dan analisanya.

Serentak dengan kekuatan kebendaan yang muncul di
Barat, kekuatan institusi agama pula bertambah lemah. Pengajian agama
dibentuk dengan begitu sempit dengan nilai-nilai taksub mazhab, lalu
mereka membela mazhab melebihi dari membela Islam. Di samping mereka
pula terpencil dari dunia akibat diracun pemikiran kesufian yang
melampau dan terbabas, memusuhi perkara-perkara baru yang mereka jahil
mengenainya. Ini seiras dengan tindakan gereja yang membawa kebangkitan
Revolusi Industri atau Revolusi Perancis.

 

iv. Cenderung Kepada Fiqh Yang Memayahkan (Ta’sir)

Golongan agama yang lemah inilah yang membesarkan
fatwa ‘pintu ijtihad telah tertutup’ lalu mengharamkan segala pandangan
baru, hanya kerana mereka jahil mengenainya. Bukan kerana ia bercanggah
dengan agama. Golongan agama ini mengasingkan diri dari pentas
pengetahuan moden. Mereka kelihatan kolot dan tidak mahu mengambil tahu
dunia sekitar. Fatwa-fatwa agama lebih condong kepada pengharaman,
sedangkan dalam agama asal sesuatu perkara bersifat mu’amalah adalah
harus. Mereka pula menjadikan asal apa yang mereka tidak faham dan
tidak tahu adalah haram. Hukum-hakam menjadi sempit. Perbincangan fekah
yang diperdengarkan untuk generasi moden seakan untuk manusia pada 1000
atau 500 tahun yang lalu, agar senada dengan teks mazhab tanpa meraikan
perkara-perkara yang berlaku dalam fekah. Mereka seakan manusia yang
kehilangan kerja, lalu membahaskan masalah mudah menjadi payah. Soal
wuduk sahaja disyarah hampir berbulan dengan andaian-andaian yang
bukan-bukan. Sedangkan pendengar perlu berwuduk segera, lima kali
sehari. Contoh yang lain ialah soal niat yang begitu mudah. Setiap
amalan itu dengan niat. Namun ia dibahaskan dengan begitu
payah. Diletakkan syarat-syarat yang bukan memudahkan, sebaliknya
memayahkan. Persoalan bagaimana hendak melafazkan niatkan sahaja telah
mengambil masa umat begitu lama dan berkesudahan dengan bertambah sukar
dan was-was dalam solatnya.

 Kata Ibn Taimiyyah
(meninggal 728H):(Bahkan melafazkan niat itu adalah cacat pada akal dan
agama. Adapun pada agama kerana ia adalah bid’ah . Adapun pada akal,
kerana ia seperti orang yang hendak makan sesuatu makanan lalu berkata:
“Aku berniat meletakkan tanganku pada bekas ini kerana aku hendak
mengambil satu suap darinya, lalu aku letakkannya dalam mulutku, lalu
aku kunyah kemudian aku menelannya supaya aku kenyang”. Sama seperti
orang yang menyebut: “Aku niat bersolat fardu ini pada masuk waktunya,
empat rakaat dalam jamaah, tunai kerana Allah”. Ini semua adalah bodoh
dan jahil. Ini kerana niat adalah kesampaian pengetahuan. Apabila
seseorang hamba Allah tahu apa yang sedang dia buat, maka dengan
sendirinya dia telah berniat perkara itu. Tidak terbayang dengan wujud
pengetahuan dalam akalnya, untuk dia melakukan tanpa niat. Tidak
mungkin pula tanpa pengetahuan, terhasilnya niat. Telah sepakat para
imam yang empat bahawa menguatkan suara dalam berniat dan mengulanginya
tidak disyariatkan. Bahkan sesiapa yang terbiasa dengan itu hendaklah
diberi hukuman (untuk mengajarnya) bagi menghalangnya melakukan ibadah
secara bid’ah dan mengganggu orang ramai dengan mengangkat suara.( Ibn
Taimiyyah, Al-Fatawa al-Kubra, 2/ 95. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyat (1987)

 

Kata Dr Yusuf al-Qaradawi: (Niat ini adalah amalan
hati semata. Bukan amalan lidah. Tidak diketahui daripada Nabi s.a.w.,
tidak juga dari para sahabah dan para tabi’in yang mengikut mereka
dengan baik -yang merupakan salaf umat ini- sebarang lafaz bagi niat
ibadat, seperti solat, puasa, mandi, berwuduk dan seumpamanya, apa yang
kita lihat sebahagian manusia bersungguh-sungguh melakukannya, seperti
mereka menyebut: Aku berniat mengangkat hadas kecil, atau besar, atau
solat zohor, atau asar empat rakaat kerana Allah Yang Maha Besar, atau
aku berniat puasa esok hari pada bulan ramadan
dan sebagainya. Ini semua tidak dibawa (diajar) oleh sebarang ayat
al-Quran atau Sunnah. Tidak ada faedah baginya, di mana seorang insan
tidak akan berkata ketika hendak ke pasar: aku niat hendak ke pasar.
Atau ketika dia hendak bermusafir: Aku niat bermusafir. Al-Zarkasyi
dalam fatwa-fatwanya memetik perkataan al-Ghazali: “Urusan niat dalam
ibadah itu, namun apa yang menyusahkan ialah disebabkan kejahilan
dengan hakikat niat atau (disebabkan) was-was”. (http//:qaradawi.net)

 

 Mereka lupa sifat agama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad s.a.w. seperti yang dinyatakan oleh al-Quran:

Firman Allah: (maksudnya): Mereka yang mengikut
Rasulullah (Muhammad s.a.w) Nabi yang Ummi, yang mereka dapati tertulis
(namanya dan sifat-sifatnya) di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi
mereka. Dia menyuruh mereka dengan perkara-perkara yang baik, dan
melarang mereka daripada melakukan perkara-perkara yang keji; dan dia
menghalalkan bagi mereka segala benda yang baik, dan mengharamkan
kepada mereka segala benda yang buruk; dan ia juga menghapuskan dari
mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada pada mereka.
Maka orang-orang yang beriman kepadanya, dan memuliakannya, juga
menolongnya, serta mengikut nur (cahaya) yang diturunkan kepadanya
(Al-Quran), mereka itulah orang-orang yang berjaya. (Surah al-‘Araf:
157)

 

Firman Allah: (maksudnya) Allah menghendaki kamu
beroleh kemudahan, dan Ia tidak menghendaki kamu menanggung kesukaran.
(Surah al-Baqarah: 185)

 

Firman Allah: (maksudnya) Allah (sentiasa) hendak
meringankan (beban hukumnya) daripada kamu, kerana manusia itu
dijadikan berkeadaan lemah. (Surah al-Nisa: 28)

 

v.Taqlid Hukum Tanpa Kajian

 Sikap taksub mazhab fekah
begitu kuat, sehingga mereka enggan melihat pandangan-pandang luar
mazhab mereka yang mungkin lebih kukuh dan bermanfaat. Kelompok agama
jenis ini hanya berusaha agar pengikutnya tidak keluar, sekalipun
terpaksa menolak dalil yang sahih. Kata Dr. Yusuf
al-Qaradawi: “Golongan yang taksub ini tidak membolehkan sesiapa yang
mengikut sesuatu mazhab keluar daripadanya, sekalipun dalam beberapa
masalah yang jelas kepada pengikut mazhab bahawa dalil mazhabnya lemah.
Sehingga mereka menyifatkan sesiapa yang keluar mazhab sebagai tidak
berpendirian. Perbuatan ini sebenarnya mewajibkan apa yang tidak
diwajibkan oleh Allah SWT. Seakan-akan mereka menganggap imam-imam
mazhab mempunyai kuasa membuat syari`at dan perkataan mereka adalah
hujah syarak yang dipegang dan tidak boleh dibangkang. Ini sebenarnya
menyanggahi tunjuk ajar imam-imam mazhab itu sendiri, kerana
sesungguhnya mereka telah melarang orang ramai bertaklid kepada mereka
atau selain mereka. Ini juga menyanggahi apa yang dipegang oleh
golongan salaf umat ini iaitu para sahabah dan mereka yang
selepas sahabah sepanjang kurun-kurun yang awal yang merupakan
sebaik-baik kurun dan yang paling dekat kepada petunjuk Nabi. Justeru
itu, para ulama besar umat ini dan para muhaqqiqnya membantah sikap melampau di dalam taklid
mazhab yang menyamai apa yang dilakukan oleh ahli kitab yang mengambil
paderi dan pendita mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah”.(
Dr. Yusuf al-Qaradawi, Al-Sahwat al-Islamiyyat bain al-Ikhtilaf al-Masyru’ wa al-Tafarruq al-Madhmum, m.s 202,Kaherah: Dar al-Sahwat (1991)

 

iv. Fokus Hukum Yang Sempit

 Selain dari kesempitan
pemikiran, fiqh yang menyusahkan, taqlid tanpa kajian ditambah pula
dengan fokus fiqh yang amat terbatas. Pengajian hukum hanya tertumpu
kepada persoalan perukunan. Hukum-hakam syarak hanya digambar berkisar
mengenai taharah, haid dan nifas, solat, puasa, zakat dan haji.
Akhirnya Umat Islam mulai jahil tentang kesyumulan sistem Islam yang
menyeluruh. Persoalan

 Hasilnya, negara-negara Islam
kelihatan begitu miskin dan lemah. Kotor, tidak berperaturan, rasuah,
mundur dan diperbodohkan. Padahal umat Islam memiliki bumi yang subur
dan kedudukan yang stratigik. Kata Dr. Yusuf al-Qaradawi:
“Kekuatan ekonomi kita terbengkalai. Kita hidup di bumi Allah yang
paling strategik, paling baik dan subur. Bumi yang paling banyak galian
yang tersimpan dalam perutnya dan kekayaan yang bertebaran di atasnya.
Malangnya kita tidak menggerakkan kekayaan kita, tidak bertani di bumi
kita, tidak menghasilkan keluaran dari galian sedangkan bahan mentahnya
dikeluarkan dari bumi kita…jadilah kita dalam banyak keadaan pengguna
bukan pengeluar, pengimpot bukan pengilang. Kadang kala kita
menghasilkan produk yang kita tidak memerlukannya dan kita abai
menghasilkan barangan yang sangat kita perlukan. Kita berbangga dengan
memiliki kereta–kereta mewah antarabangsa, sedang kita tidak tahu untuk
membuat basikal sekalipun”. (Dr. Yusuf al-Qaradawi, Ain al-Khalal, m.s.12-13, Beirut: Muassasat al-Risalat (2001)

Abu Hasan `Ali al-Nadwi r.h. pernah mengkritik dunia
Arab dalam tulisannya dengan menyatakan: “Mestilah bagi dunia Arab
sebagai dunia Islam bebas (memiliki sendiri) dalam perniagaan, harta,
industri dan pendidikan. Bangsa mereka tidak boleh memakai melainkan
apa yang tumbuh di buminya dan ditenun dengan tangannya…sesungguhnya
dunia Arab tidak dapat dapat memerangi Barat- jika keadaan memerlukan
demikian- selagi meraka memerlukan Barat dalam soal harta, pakaian dan
barangan. Tidak ada pena yang digunakan untuk menandatangani sesuatu
perjanjian dengan Barat, melainkan pena tersebut dibuat di Barat. Tidak
ada senjata yang digunakan untuk memerangi Barat, melainkan senjata itu
dibuat di Barat. Sesungguhnya adalah memalukan apabila umat Arab tidak
dapat mengambil manfaat daripada sumber kekayaan dan kekuatan mereka
sendiri. Adalah memalukan apabila air kehidupan yang mengalir di dalam
urat mereka akhirnya sampai ke tubuh orang lain”.( Abu al-Hasan al-Nadwi, Madha Khasira al-‘Alam bi Inhitat al-Muslimin,, m.s. 416)

Apa tidak, ruh kekuatan negara telah dihilangkan.
Mereka tidak menjadikan Islam sebagai ruh dan urat saraf. Jadilah
mereka bagaikan insan kegelapan kehilangan cahaya. Pun jika dia
mempunyai akal, dia dapat berfikir, bergerak dan meraba bagi
mendapatkan semula lampunya semulanya. Malangnya dia bodoh lalu dia
merasakan aman tanpa cahaya kerana dia tidak lagi takut kepada bahaya
di hadapannya disebabkan dia tidak nampak. Akhirnya dia jatuh ke dalam
kemusnahan. Jika dia jatuh bersendirian tidak mengapa, itu adalah hasil
kebodohannya, namun yang menjadi masalah apabila rakyatnya turut
menjadi mangsa.

Hasil dari para pemerintah yang tidak
bertanggungjawab dan kontang akal, negara-negara umat Islam berwajah
dengan wajah kemunduran. Samada senjata, pengangkutan, bahkan makanan,
kita terpaksa meminta sedekah, atau membeli dari orang lain. Pemerintah
dan raja negara-negara umat Islam kelihatan mewah dengan hasil mahsul
yang dijual atau disamun oleh Barat. Negara terus berada dalam
kemunduran teknologi dan minda. Rakyat pula ramai yang miskin, buta
huruf, dan tidak terurus.

 

 Lemahnya
pemikiran golongan agama lemahlah agama…Faktor-faktor di atas antara
pemangkin mengapa agama dipandang rendah. Faktor-faktor ini mesti
dihapuskan. Ruh kekuatan agama mesti dikembalikan. Kita
menyeru kepada keluasan pemikiran dan pendekatan yang memampukan kita
menghadapi cabaran zaman. Kesemua ini dengan syarat tidak
membelakangkan al-Quran dan al-Sunnah.

Oleh: Dr.Asri Zainul Abidin (3 May 2006)

-al-ahkam.net-

Kesahihan Al-Quran & Bible

Friday, December 1st, 2006


Kesahihan al-Qur’an dan Bible

 
   
 

Soalan
   

   
Jika
non-Muslim bertanya berkenaan kesahihan al-Qur’an, bagaimana kita boleh
menjawab soalan itu dan apakah bukti yang boleh kita berikan mereka
yang al-Qur’an dalam bentuknya yang asal sejak daripada permulaan dan
tidak pernah dipinda. Juga, Jika non-Muslim bertanya apakah bukti yang
kita (Muslim) ada yang Bible sudah diseleweng.
 

Jawapan Oleh Shahul Hameed

Wahyu ialah cara utama Allah mengatur alam ini. Terdapat dua
aspek berkaitan wahyu. Pertama wahyu itu sendiri dan kedua bukti wahyu
itu datang dari Allah. Buktinya datang dalam pelbagai cara. Tetapi,
sebelum melihat kepada bukti-buktinya, mari kita secara ringkas
berfikir akan wahyu itu dan kenapa wahyu itu penting dalam perancangan
alam.

Keperluan asas untuk wahyu adalah untuk menyediakan autoriti moral,
untuk memimpin manusia kearah mencapai matlamat kewujudan, yang
merupakan kehendak Allah. Tanpa wahyu, kita mungkin hanya akan
menghukum apa yang berguna untuk keadaan kita. Tetapi, tujuan kita
dalam penciptaan memerlukan satu autoriti yang lebih besar daripada
pertimbangan dunia semata-mata. Apa yang betul? Apa yang salah? Ini
ialah soalan-soalan berkaitan dengan ciri utama kewujudan dan hanya
boleh dijawab oleh Sang Pencipta – Allah.

Al-Qur’an menerangkan perkara ini awal-awal lagi. Al-Qur’an bermula
dengan bacaan asas solat al-fatihah – pembukaan. Ini satu doa utama
kepada Allah untuk petunjuk . Surah seterusnya al- Qur’an mula menjawab
doa ini dengan kenyataan berikut:

 
Kitab(Al Quran) ini tiada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa
 
Surah 2 Ayat 2

Apabila merujuk kepada bukti-bukti yang sesuatu kitab sememangnya
datang daripada Allah, terdapat banyak pertimbangan. Pertamanya, kita
boleh melihat kepada integriti teks dan fakta sejarah mengenai
pengumpulan kitab itu. Ini menjelaskan realiti sejarah kitab itu.
Kemudian kita boleh melihat bagaimana apa yang dikatakan menjadi bukti
berasal dari kalam Tuhan. Pertamanya mari kita lihat pada bukti sejarah
dan ketekalan (consistency) akan dakwaan yang dibuat atas setiap kitab.

Al Qur’an

Berkenaan dengan kesahihan al- Qur’an, kita perhatikan perkara-perkara berikut:

Allah memberitahu Rasulullah dalam al-Quran:

Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Quran
karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. Sesungguhnya atas tanggungan
Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya.
Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu.
Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya.

 
Surah 75 Ayats 16 - 19

Allah memberi jaminan yang pengumpulan dan penyebaran al- Qur’an
adalah terjamin. al- Qur’an di hafal oleh Rasulullah (SAW), yang
menerima wahyu ilahi itu, bukan sahaja membaca nya kepada sahabat
baginda, tetapi mempelajari nya dengan hafalan. Bahkan, Rasulullah
(SAW) mengambil sepenuh usaha untuk memastikan para sahabat juga
mempelajari nya dengan hafalan. Rasulullah (SAW) bersabda:

‘Yang terbaik dikalangan kamu (Muslims) ialah mereka yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.’ (Bukhari, VI - No. 546)

Mengikuti arahan Rasulullah (SAW), ramai sahabat baginda
mempelajari al-Qur’an dengan menghafal, serta-merta setelah ayat-ayat
itu diwahyukan. Imam Suyuti menyebut – dalam Itqan beliau- lebih
daripada dua puluh orang yang terkenal yang menghafal wahyu itu. Amalan
menghafal al-Qur’an telah amat digalakkan oleh Rasulullah (SAW), bukan
sahaja sahabat baginda, tetapi Muslim yang alim kemudiannya juga
mengambil berat menghafalnya.

Benar yang al-Qur’an tidak dikumpulkan dalam satu buku semasa masa
Rasulullah (SAW); tetapi ayat-ayat itu ditulis dengan cermat dan surah
dibaca, bukan hanya semasa solat, tetapi juga pada peristiwa lain.
Muslim diajar yang membaca dan mempelajari ayat-ayat al-Qur’an ialah
amalan mulia dan mendapat pahala besar. Atas sebab ini, sahabat
Rasulullah (SAW) bersungguh-sungguh mempelajari ayat-ayat itu, yang
sebahagian besarnya bertanggung-jawab dalam menjaga al-Qur’an dalam
hati manusia.

Kisah Omar memeluk Islam amat terkenal. Dalam riwayat Ibn Hisham
kita boleh membaca bagaimana Omar meminta adik perempuannya untuk
memberikan kepada beliau satu keping al-Qur’an yang tertulis, yang
mereka telah baca. Perkara ini ialah bukti amalan menulis ayat-ayat
al-Qur’an atas bahan-bahan yang ada sudah dilakukan pada masa awal
turun wahyu.

Penulis-penulis riwayat hidup Rasulullah (SAW) dengan jelas
mencatatkan yang baginda melantik ramai penulis untuk mencatat wahyu
al- Qur’an. Hadith ini membuktikan yang para sahabat telah ada
al-Qur’an dalam bentuk bertulis:

 
‘Daripada Ibn Omar: … Rasulullah
(SAW) bersabda: ‘Jangan dibawa al- Qur’an dengan kamu semasa
perjalanan, kerana aku takut ia jatuh ke tangan musuh’’.
 
(Sahih Muslim & Sahih Bukhari)

Jelaslah yang ini merujuk al-Qur’an dalam bentuk bertulis .
Terdapat tiga hadith dalam Sahih Bukhari, memaklumkan kita yang
Malaikat Jibril selalu membaca al-Qur’an dengan Rasulullah (SAW) sekali
setahun, tetapi dia membacanya dua kali bersama baginda pada tahun
baginda meninggal. Ini berlaku apabila Rasulullah (SAW) selalu
beriktikaf (beribadah bersendirian) selama sepuluh hari setiap tahun
(dalam bulan Ramadan), tetapi pada tahun baginda meninggal, baginda beriktikaf selama dua puluh hari. (Bukhari)

Jelaslah dengan sebab-sebab tadi yang tiada perbandingan antara
al-Qur’an dan Kitab-kitab suci lain, dalam hal merekod dan menyebarkan
kepada generasi kemudian. Sedangkan kitab-kitab dalam Perjanjian Lama
dan Baru, contohnya, ditulis, diedit dan dikumpulkan dalam jangka
panjang, kadang-kala berabad, kandungan al-Qur’an, biar pun wahyu sudah
berakhir, masih kekal sama, sehingga hari ini.

Zaid ibn Thabit ialah ketua penulis, yang selalu mencatatkan wahyu,
mengikut arahan Rasulullah (SAW). Selepas zaman Rasulullah (SAW), dalam
perang Yamama, sebilangan besar huffaz (mereka yang menghafal
al-Qur’an) syahid. Maka Abu Bakar melantik Zaid untuk mengumpulkan
semua versi al-Quran yang ada bertulis dan membawa satu salinan utama.
Disebabkan beliau ialah ketua penulis Nabi, maka beliau orang yang
paling sesuai untuk kerja itu.

Apabila beliau menyempurnakan kerja itu, beliau memberikan koleksi
al-Qur’an bertulis kepada Abu Bakar, yang Abu Bakar menyimpan
bersamanya sehingga kematiannya. Selepas kematian Abu Bakar, Omar,
khalifah kedua, akhirnya memberikannya kepada anaknya Hafsa – seorang
daripada isteri nabi – untuk dijaga. Daripada koleksi bahan ini
Khalifah Othman menyediakan beberapa salinan dalam bentuk kitab lengkap
pertama Al-Qur’an. Beberapa salinan ini masih wujud.

Allah memberi jaminan kepada kita dalam al-Qur’an:

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.

 
Surah 15 Ayat 9

… sesungguhnya Al Quran itu adalah kitab yang mulia. Yang
tidak datang kepadanya (Al Quran) kebatilan baik dari depan maupun dari
belakangnya, yang diturunkan dari Rabb Yang Maha Bijaksana lagi Maha
Terpuji.

 
Surah 41 Ayats 41 – 42

Untuk fakta sejarah lebih lanjut mengenai masa wahyu al-Qur’an sila
baca ‘Ulum al-Quran - An Introduction to the Sciences of the Qur’an –
oleh Ahmad Von Denffer

Bible

Apabila kita meneliti sejarah Bible, kita dapati kisahnya berlainan sekali. Pertamanya, Bible
bukannya satu kitab; tiada orang Kristian yang boleh mendakwanya
sebagai satu kitab, yang diwahyukan kepada Tuhan kepada seorang Nabi.
Bahkan, mengikut kepada beberapa pendita Kristian, ia ialah “satu kumpulan kitab-kitab”. Ini bermakna yang Bible telas ditulis oleh ramai pengarang pada pelbagai peringkat dalam sejarah. Ini adalah perbezaan utama antara al-Qur’an dan Bible.

Semua Bible dibahagikan kepada Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.
Perjanjian Lama terdiri daripada kitab-kitab yang ditulis sebelum Nabi
Isa al-Masih. Kemudian, Perjanjian Baru terdiri daripada kitab-kitab
yang ditulis selepas Nabi Isa al-Masih.

Mengikut kepada Encyclopedia Universalis (Paris, 1974 edition, Vol.
A pp. 246- 263: Entri: Bible, yang ditulis oleh J.P. Sandroz, Professor
di Dominican Faculties, Saulchoir), Perjanjian Lama muncul sebagai satu
kesusasteraan agung bagi orang Yahudi, daripada asalnya hingga
kedatangan agama Kristian.

Kandungan kitab itu ditulis, disiapkan dan disemak antara kurun
Kesepuluh dan pertama Sebelum Masihi. Kitab itu ialah kumpulan hasil
kerja pelbagai panjang dan pelbagai genre yang banyak. Kitab itu
ditulis dalam beberapa bahasa, pada tempoh lebih sembilan ratus tahun,
berdasarkan tradisi lisan. Banyak hasil kerja itu dibetulkan dan
disiapkan, mengikut peristiwa atau keperluan khas, selalunya pada
tempoh yang sanggat lama di antara satu sama lain.

Untuk memahami apa yang Perjanjian Lama menggambarkan, penting
untuk mengekalkan maklumat ini, yang disahkan dengan tepat kini oleh
pakar yang amat layak. ‘Satu wahyu dicampur-aduk dengan kesemua
penulisan itu, tetapi semua yang kita ada kini ialah apa yang mereka
lihat sesuai untuk ditinggalkan kepada kita. Mereka ini memanipulasikan
penulisan itu untuk menggembirakan diri mereka, mengikut kepada keadaan
yang mereka berada dan keperluan yang mereka hadapi.’ (The Bible,
Qur’an and Modern Science - by Maurice Bucaille.)

Kita juga dapati dalam The Interpreter’s Dictionary Of The Bible:

‘Naskah asal kitab Perjanjian Baru sudah pasti telah lama hilang.
Fakta ini tidak sepatutnya menyebabkan kejutan. Pertamanya, kitab itu
ditulis di atas papyrus, bahan yang sangat rapuh dan mudah musnah.
Keduanya, dan mungkin bahkan lebih penting , naskah asal Perjanjian
Baru tidak dilihat sebagai kitab oleh mereka dari masyarakat Kristian
awal.’ (George Arthur Buttrick - Ed.: The Interpreter’s Dictionary Of
The Bible, Volume 1, p. 599 – under: ‘Text, New Testament’).

Perjanjian Baru mengandungi 39 kitab. Empat kitab pertama dikenali
sebagai Injil, yang menceritakan kisah Isa. Kitab yang lain ditulis
oleh mereka yang dikatakan pengikutnya. Yang paling utama antara mereka
ialah St. Paul, yang menulis tiga belas kitab. Yang
menghairankan dalam hal itu ialah St. Paul ini, walaupun sezaman dengan
Isa, tidak pernah berjumpa beliau, dia bukan dikalangan dua belas orang
pengikut yang di pilih oleh Isa sendiri! Akan tetapi, ideanya, bukannya
daripada Isa atau sebahagian pengikut beliau, yang telah memberi bentuk
utama kepada agama Kristian moden!

Empat penulis Injil ialah Matthew, Mark, Luke dan John. Dikalangan
pengikut Isa, kita jumpa semua nama ini kecuali Luke. Paderi-paderi
Gereja mengajarkan pengikutnya yang penulis Injil ialah “saksi” kepada
perbuatan Isa. Tetapi pengkaji moden menjelaskan yang penulis Injil dan
pengikut itu ialah orang yang berbeza. Contohnya, ada pengikut yang
bernama Matthew, tetapi Injil Matthew bukannya ditulis oleh Matthew ini
! Injil The King James Version menjelaskan fakta ini, lihat tajuk
Injil-injil: Injil mengikut Matthew, Injil mengikut Mark… dan
sebagainya, dan bukannya Injil oleh Matthew, Gospel oleh Mark dan
sebagainya.

Ajaran Kristian ialah Injil-injil ini, sebagaimana Perjanjian Baru
yang lain, adalah “kalam Tuhan”. Mereka berkeras mengatakan yang
penulis Injil diilhamkan oleh Tuhan semasa menulis, dan supaya tidak
berlaku kesalahan. Jika ini benar, bagaimana boleh mereka menjelaskan
percanggahan dikalangan pelbagai Injil akan banyak perkara? Contohnya
Matthew dan Luke memberikan dua salasilah Isa yang berbeza. (Lihat
Matthew: 1:1-17; dan Luke 3: 23-38). Hanya beberapa nama dalam dua
senarai itu sepadan!

Terdapat banyak lagi bukti dalaman dalam kitab Bible, yang
membuktikan yang kitab ini tidak terkawal dengan pasti daripada
penyelewengan. Tetapi bagi matlamat kita, saya harap maklumat tadi
sudah cukup. Sudah jelas, dari fakta di atas, al-Qur’an yang kita ada
kini, ialah teks yang sahih. Sedangkan dakwaan keaslian Bible
(kedua-dua Perjanjian Lama dan Baru) adalah palsu.

Beralih daripada realiti sejarah kitab-kitab itu, terdapat banyak
maklumat mengenai kandungan al-Qur’an. Satu ujian utama terhadap
sesuatu kitab yang boleh dijadikan pengukur yang kitab itu kalam Tuhan
ialah ketekalan (consistency) kandungannya dan ketekalannya dengan
sains sepanjang masa. Dakwaan itu tidak boleh di buat atas Bible dengan
sains tetapi dakwaan itu boleh dibuat atas al-Qur’an dan benar.

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? Kalau
kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat
pertentangan yang banyak di dalamnya.

 
Surah 4 Ayat 82

Terjemahan daripada: The authenticity of the Qur’an and the Bible

http://www.islamonline.net/servlet/Satellite?cid=1123996015712&pagename=IslamOnline-English-AAbout_Islam/AskAboutIslamE/AskAboutIslamE

Perterjemah: Zul Yusoff http://zulyusoff.blogspot.com

-al-ahkam.net-